“Saya Berpikir, Maka Saya Ada”, (Rene Descartes, Bapak Kemoderenan)
Oleh Marinus Waruwu
Marcus Tullius Cicero lebih dikenal sebagai seorang filsuf dan negarawan ketimbang seorang pengacara. Hal itu tak terlepas pada kecintaannya akan kebijaksanaan-kebijaksanaan filsafat Yanani kuno baik pra sokratik maupun post sokratik. Cicero adalah salah satu pemikir legendaris di bidang politik pada jaman klasik. Namun, kebesaran namanya masih dibawah bayang-bayang para pemikir politik lainnya dari dunia Yunani seperti Aristoteles, Plato. Dua filsuf paling diminati sepanjang jaman. Kendati demikian, tak masalah jika pemikiran-pemikirannya diangkat lagi, tentu saja direlevansikan dengan situasi politik di jaman Post-modernitas kini.
Cicero lahir di Roma sekitar tahun 106 SM. Sejak kecil sudah dididik, diarahkan pada hal-hal yang bersifat klasik dan suatu ketika siap berkarier dalam bidang hukum. Karena minatnya pada sastra yang sangat tinggi, ia rela meninggalkan kota kelahirannya menuju Athena, dan Rhodes. Di kota inilah ia mendalami filsafat dan retorika, termasuk ajaran para stoisisme. Setelah kembali ke Roma, ia menikah dan berkarier dalam bidang politik praktis. Karier politiknya pun cepat menanjak. Ia sempat menjabat sebagai anggota senat. Tragisnya, Cicero mati terbunuh oleh pemberontakan militer yang berusaha mengjungkalkan kekuasaan Caesar. Ia mati demi kaisar. Setia demi kaisar dan Negara yang dicintainya. Kepala dan tangannya pun dijadikan sebagai tontonan publik.
Secuil Pemikiran Cicero
Buku Cicero yang terkenal adalah Commenwealth. Bukunya ini punya kemiripan dengan bukunya Plato yang berjudul Republic. Isinya berbentuk dialog antara para sahabatnya. Topik utamanya berkaitan dengan tema-tema politik dan keadilan.
Dalam bukunya ini, ada lima ajaran utama Cicero tentang kehidupan politik dalam sebuah Negara. Pertama, Cicero mengkonfrontasikan pertanyaan kewajiban para filsuf dalam Negara. Kedua, membahas tentang sifat persemakmuran (commenwealt). Baginya, commenwealt adalah sebuah urusan rakyat. Manusia adalah makhluk sosial alami, dan membentuk masyarakat politik. Ketiga, diskusi tentang hukum alam. Menurut Cicero, hukum alam adalah konvensi-konvensi relative yang hanya melayani kepentingan mereka yang berkuasa. Keempat, pembelaan keadilan sebagai sebuah atribut universal dari akal dan dapat diakses oleh semua makhluk rasional. Hal ini bertujuan untuk menentang keputusan-keputusan para pemimpin politik, dan perang yang terjadi atas nama Negara. Kelima, mendiskusikan ciri-ciri penguasa yang baik. Moral baik dan sifat praktis penguasa menjadi kekuatan yang dapat memberi motivasi.
Beberapa Komentar
Saya bukan seorang komentator dalam bidang politik, dan bukan juga seorang politikus yang hidup dalam peziarahan politik, tetapi bagi saya pemikiran-pemikiran Cicero sungguh hidup kini. Ideal-ideal politiknya menjadi referensi bagi para filsuf politik, para penguasa pasca Cicero. Yang paling menarik dari ajarannya adalah pertama, berkaitan dengan peran para filsuf di dalam Negara. Ini berkaitan dengan ajarannya di bagian pertama. Jika Plato menganggap filsuf cukup sebagai bayang-bayang kota saja, dan merenungkan bentuk-bentuk pemerintahan terbaik, Cicero justru sebaliknya. Cicero, sang ahli hukum ini menegaskan akan pentingnya kebijaksanaan para filsuf di dalam Negara. Karena itu pula para filsuf harus ikut serta dalam kehidupan politik dalam Negara. Filsuf tidak cukup hanya sebagai pemikir, perenung di luar kota, tetapi ikut andil dalam melayani Negara. Kedua filsuf ini berbicara secara tegas tentang peranan filsuf yang seharusnya. Namun keduanya mempunyai kebijaksanaan yang berbeda. Plato terlalu idealis, perenung, cenderung pasif pada Negara, sedangkan Cicero lebih praktis. Ia menginginkan filsuf terlibat dalam kehidupan politik. Kebijaksanaan-kebijaksanaan seorang filsuf penting bagi Negara.
Di jaman modern, Immanuel Kant mungkin salah satu pengikut setia Cicero dalam hal peran filsuf dalam Negara. Mirip dengan Cicero, Kant juga menginginkan filsuf ikut terlibat dalam kehidupan politik, namun hanya sebagai corrector. Artinya seorang filsuf menjadi pengendali seorang pemimpin yang menyimpang, melanggar aturan, atau bertindak sewenang-wenang demi keuntungan pribadi.
Kedua, Relevansinya untuk dunia kini: Untuk Negara-negara modern, yang menjadi pengendali, corrector penguasa adalah rakyat banyak. Media masa juga ikut ambil andil. Lembaga legislatif mungkin saja ambil andil, namun tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan rakyat. Kekuasaan yang besar dari rakyat tak terlepas dari sistem demokrasi yang bersifat kerakyatan. Namun, pada jaman orde baru sampai jaman reformasi ini, yang bertindak sebagai corrector terhadap penguasa justru para aktivis, yang bernaung di berbagai lembaga-lembaga LSM. Para pengamat politik dari dunia akademis juga ikut ambil bagian. Sementara, corrector dari rakyat tidak begitu menonjol. Mungkin karena masalah kemiskinan, pendidikan sehingga memosisikan rakyat seolah-olah terasing dari dunia politik. Jika mengacu dari pendapat Cicero, menurut saya para pengkritik setia pemerintahan yang ada dalam diri para aktivis HAM, para pengamat politik dari dunia akademis, dan berbagai kelompok lainnya, sejatinya telah memerankan tugas sebagai seorang filsuf. Dalam arti menjadi corrector, pengendali penguasa. Walaupun mereka bukan filsuf, namun telah menjalankan tugas sebagai seorang filsuf, di luar struktur pemerintahan.
Ketiga, Cicero memberi koreksi, berperan sebagai filsuf, namun ia juga ikut menjadi bagian dari kehidupan politik. Ia menjadi pengacara, diplomat terkenal. Kehidupannya ini pun dapat menjadi referensi untuk kehidupan kini. Bahwa seorang pemikir, pengkritik berbagai kebijakan pemerintahan, sejatinya bukanya hanya mengetahui, dan berbicara tentang kekurangan pemerintahan, melainkan ikut berpartisipasi memperbaiki, dan membangun kembali pemerintahan. Itulah filsuf sejati bagi Cicero.
Keempat, kematian Cicero demi sebuah kesetiaan adalah penting. Gagalnya para penguasa dalam memimpin dan menyejahterakan rakyat banyak erat hubungannya dengan masalah kesetiaan. Para penguasa di jaman kini perlu membaca buku-buku Cicero yang berbicara banyak tentang masalah kesetiaan. Mungkin itu bisa menjadi masukkan dalam memimpin rakyat banyak. Kesetiaan adalah salah satu tangga keberhasilan sebuah pemerintahan.
Kelima, masalah keadilan. Keadilan bagi semua adalah keadilan idaman Cicero. Keadilan bersifat universal, dan tak terbatas pada kelompok, golongan, suku, agama. Ia menyangkut kehidupan pada umumnya. Karena itu, pemimpin yang adil adalah pemimpin yang menghargai kemanusiaan.
Salam hangat!
Bahan Bacaan:
Losco, Joseph & Williams, Leonard, Political Theory classic and contemporary readings, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005, Volume I
Losco, Joseph & Williams, Leonard, Political Theory classic and contemporary readings, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005,Volume 2
Budi Hardiman, Fransiskus, Filsafat Modern, Jakarta: PT. Gramedia Utama, 2007.
Bertens, K, Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta: Kanisius, 1975.
A.S, Hikam, Muhammad, Politik kewarganegaraan, Jakarta: Penerbit Erlangga, 1999.
Oleh Marinus Waruwu
Dalam bukunya The End Of History, Francis Fukuyama mencanangkan kapitalisme global ala Amerika sebagai The End, akhir dari sejarah dunia. Dengan itu pun Fukuyama memproklamirkan kapitalisme global ala barat itu sebagai satu-satunya alternative bagi hidup manusia. Kapitalisme merupakan satu-satunya penentu sejarah dunia modern. Penegasan seorang Fukuyama ini tak terlepas dari peristiwa ambruknya sosialisme- komunisme ala Uni Soviet di akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an.
Mengamati berbagai peristiwa menghebohkan akhir-akhir ini, para ilmuan pun mulai meragukan nasib kapitalisme ala barat yang dimotori oleh Amerika Serikat ini. Keraguan yang berkembang bisa saja diinterpretasikan sebagai tanggapan akan pandangan Fukuyama. Bisa juga dianggap sebagai penyangkalan akan hegemoni kapitalisme barat. Peristiwa menggemparkan dunia berawal pada tahun 2008. Di tahun 2008, kapitalisme global sungguh-sungguh mengalami keterpurukan. Bank-bank besar dunia yang selama ini menjadi simbol capitalism berguguran. Banyak Negara maju maupun Negara berkembang bangkrut. Perusahaan-perusahaan nasional maupun multinasional gulung tikar. Akibatnya, banyak tenaga kerja, buruh yang di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Dengan itu, manusia sebagai individu pun ikut serta dalam keterpurukan baik mental, harta benda, dan juga berefek pada sisi kerohaniannya. Orang pun bertanya Apakah nasib kapitalisme sudah berakhir? Waktu dan sejarah akan membuktikkannya!
Krisis globalisasi juga diwarnai dengan masalah global warming, yakni krisis ekologis. Di sini umat manusia tengah terlibat dalam proses bunuh diri. hutan-hutan tropis yang selama ini identik dengan jantung dunia dibabat habis. Suhu bumi pun makin panas. Es di kutub utara mencair, yang berefek pada naiknya permukaan air laut. Banjir di berbagai tempat telah memakan begitu banyak korban jiwa. Kejadian-kejadian yang menakutkan ini menjadi tantangan nyata untuk kelangsungan hidup manusia di bumi tercinta ini. Jika direfleksikan secara lebih mendalam, maka ada dua penyebab krisis ekologis itu sendiri. Pertama, kegilaan akan kemajuan (progres). Kegilaan akan progress diawali pada jaman aufklarung, dan mungkin pandangan F. Hegel yang mengidam-idamkan perubahan nasib manusia, yakni dari perbudakan menuju pembebasan dan kemakmuran. Bagi Hegel, sejarah adalah proses perubahan dari scancity menuju prosperity. Adapun tujuan dari ini adalah happiness, yakni kebahagiaan yang bebas dari alam. Manusia pun tak merasa tergantung pada alam, melainkan alamlah yang seharusnya tergantung pada manusia. Alam pun harus disesuaikan atau diselaraskan dengan ide, pikiran manusia. Hal ini sangat terasa dalam perkembangan science. Kedua, kegilaan akan pembangunan (development). Pembangunan penting, dan harus! Namun harus sesuai dengan porsinya dan tidak terjebak dalam keserakahan belaka ilmu pengetahuan. Pembangunan di berbagai segi kehidupan telah menjadikan alam sebagai objek, korban yang harus dieksploitasi demi keuntungan capital group. Di sisi lain, tindakan semena-mena ini justru membawa manusia ke jurang kehancuran dan malapetaka.
Selain masalah ekologis, krisis globalisasi juga diwarnai dengan semakin terfragmentasinya Negara-negara di dunia. Perang antara Negara, kerusuhan etnis, perang antara agama atau sekte tak terhindarkan. Kaum fundamentalisme agama yang tampak pada terorisme global juga mengambil keuntungan, dan siap mengobarkan terror. Singkatnya, konflik antara sesama manusia telah menjadikan hidup manusia teralienasi dari kelompoknya sendiri (group), dan merasa tidak nyaman dengan lingkungannya.
Saya pun bertanya-tanya apa gerangan di balik berbagai peristiwa pedih di era globalisasi ini, suatu jaman yang seharusnya bisa dinikmati malahan mendatangkan penderitaan terus-menerus bagi umat manusia. Antroposentrisme barat mungkin salah satu dari sekian banyak pemicu krisis ini. Lahirnya Cogito Ergo Sum dari Rene Descartes, dan sebelumnya pandangan Kristianitas tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan alam telah melegitimasi tindakan manusia terhadap alam. Descartes memprolamirkan lahirnya dikotomi subjek dan objek. Manusia adalah subjek. Alam adalah objek. Maka, alam menjadi objek bagi manusia. Pemanfaatan alam sebagai objek bagi manusia sangat terasa nantinya pada perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya. Alam pun disesuaikan dengan alam pikiran manusia (thinking of man). Sebelumnya, Petrarh dan Diderot, keduanya humanis berkebangsaan Perancis dan Italia berpendapat bahwa manusia pada kenyataanya adalah asal dan tujuan. Manusia adalah titik pijak dan akhir segala tujuan. Begitu juga dengan Thomas Aquinas yang menempatkan manusia pada tataran rasional. Bagi Aquinas, manusia adalah puncak segala sesuatu. Sebagai akibatnya, lahirlah antroposentrisme barat. Atroposentrisme yang berpandangan bahwa manusia adalah puncak, dan segala sesuatu yang ada di alam ini harus disesuaikan dengan akal budi manusia. Ajaran atroposentrisme di kemudian hari menjadi sebuah epistemology dan antropology barat yang sangat radikal dalam hal rasionalitasnya.
Berbagai pandangan di atas ternyata sangat berpengaruh terhadap tindakan manusia terhadap alam ini. Manusia adalah tuan atas alam. Alam adalah benda yang patut dieksploitasi demi keuntungan manusia belaka. Namun di abad industrialisasi ini, alam seolah marah terhadap manusia. Banjir yang terjadi di berbagai tempat telah memakan banyak korban jiwa dari pihak manusia. Orang pun seolah dipaksa ber-refleksi, dan menemukan apa penyebab dari semua ini. Apakah ini hanya semata-mata akibat dari tindakan manusia atau epistemology of western, serta pandangan atroposentrisnya yang radikal sehingga secara tidak langsung melegitimasi tindakan manusia terhadap alam. Pertanyaan pun muncul tentang solusi terbaik dari masalah yang tengah dihadapi manusia di jaman globalisasi ini.
Solusi Daoisme:
Daoisme adalah salah satu aliran filsafat China. Salah satu tokoh terkenalnya adalah Lao-tzu yang hidup sejaman dengan Conficius, salah satu filsuf legendaris China. Ajaran Daoisme tentu sangat berbeda dengan pandangan epistemology barat, serta pandangan antroposentrismenya, yang terkesan agresif. Daoisme menekankan adanya keselarasan manusia dengan Dao. Dalam segala sesuatu terdapat Dao. Di dalam manusia, dan juga di atasnya terdapat Dao. Karena itu, seorang manusia harus mengikuti aturan main alam, yang adalah Dao. Singkatnya, manusia harus mengikuti aturan Dao, dan hidup selaras dengannya. Hidup selaras dengan Dao, maka hal itu akan membawa manusia pada pengalaman akan Dao. Pengalaman Dao adalah pengalaman batin. Dalam pengalaman batin bersama dengan Dao, perbedaan subjek dan objek dihilangkan.
Beberapa Komontar:
Pertama, Seribu macam aliran dalam ilmu pengetahuan barat, saya tidak pernah menemukan pendapat atau ajaran yang sama, atau hampir mirip dengan ajaran Dao. Kendati Daoisme lahir, dan berkembang di dunia timur, tak masalah jika ajaran-ajarannya diadopsi, atau dikembangkan dan menggantikan sistem pemikiran barat. Ajarannya tentang hidup selaras dengan Dao, yang adalah alam sendiri dapat menjadi solusi di abad modern ini.
Kedua, subjek dan objek hilang. Perbedaan subjek dan objek hilang tak kala mengalami Dao itu sendiri dalam hidup sehari. Maka, alam dan manusia pun sama. Manusia berdiri sejajar dengan alam. Tuan dan budak tidak ada, tetapi adanya saling ketergantungan yang sejajar di antara keduanya. Tentu saja pandangan ini sangat berbeda dengan epistemology dan antroposentrisme barat, yang mana, segalanya terpusat pada subjek. Mungkinkah ini sebuah solusi terhadap berbagai krisis globalisasi yang terjadi kini? Hanya manusia yang bisa mengubahnya. Presiden Barack Obama sudah memulai perjalanan ke arah sana!
Ketiga, dalam bidang etika, Daoisme patut diperhitungkan demi sebuah solusi di era globalisasi. Etika Daoisme menekankan tiga hal penting. Pertama, lemah lembut. Kedua, rendah hati. Ketiga, penyangkalan diri. Ketiga bidang etika ini menuntun manusia dalam hal perilaku dan hidup selaras dengan dunia. Munculnya para dictator dunia, koruptor kelas kakap, pemimpin yang sombong dan materialistic karena kurangnya pemahaman akan ketiga bidang etika Daoisme ini. Mungkinkah ini sebuah solusi? Para filsuf Daoisme akan bangga jika ajaran-ajaran kemanusiaan mereka menjadi sebuah solusi nyata atas berbagai krisis yang dialami oleh manusia di era globalisasi ini. Salam hangat!
Bahan Bacaan:
Fukuyama, Francis, The End Of History And The Last Man, Penguin Book, 1992.
Taylor, Charles, Hegel And Modern Society, The Endinburgh: Cambridge University, 1979.
Takwin, Bagus, Filsafat Timur, Yogyakarta: Jalasutra, 2003.
http://groups.yahoo.com/group/taoisme_indonesia/message/341
http://community.siutao.com/showthread.php?t=1711
Marinus Waruwu
Penyair dan dramawan Perancis Edouard Pailleon pernah mengatakan bahwa “Dapatkanlah keberhasilan dan akan selalu ada orang-orang bodoh yang mengatakan bahwa Anda mempunyai bakat”. Pernyataan Pailleon tersebut menunjukan bahwa menjadi seorang sukses baik dalam hal materi, rohani bukanlah sesuatu yang mudah. Bakat memang siap mengarahkan orang ke puncak dengan syarat orang-orang tersebut harus efektif menghidupkan bakat-bakat yang dimiliki. Di sisi lain, penyataan Pailleon memberikan sinyal banyaknya orang-orang bodoh yang sering beranggapan bahwa bakat saja sudah cukup. Bakat mampu mengantar orang ke puncak keberhasilan dalam sekejab. Padahal, pandangan seperti ini sangat menyesatkan, menipu. Mereka kira bakat akan membawa mereka melenggang ke puncak. Sementara dalam waktu bersamaan mereka melupakan jika bakat-bakat tersebut perlu diisi, diasah, dikembangkan terus-menerus hingga mencapai kematangan, perkembangan siginifikan dalam hidup.
Dalam bukunya Optimal Thinking, Rosalina Glickman menegaskan bahwa untuk menjadi orang berhasil, sukses dalam pekerjaan, sukses membina hubungan baik dengan Tuhan dan sesama tidak cukuplah hanya berpikiran positif, yang hanya mengharapkan sesuatu hal akan berlangsung, dan berjalan dengan baik, lancar-lancar saja. Lebih dari itu, pikiran positif perlu didukung oleh pikiran optimal. Dalam cara pandang berpikir opitimal, orang tidak hanya diajak berpikir secara positif, mengharapkan segala sesuatunya berlangsung dengan baik, melainkan berpikir optimal memaksa orang untuk bertanya, dan melakukan hal terbaik untuk saat ini. Dia bukan hanya berpikir positif semata, tetapi berkaitan dengan tindakan (action) yang bersumber dari pertanyaan apa hal terbaik yang bisa saya lakukan saat ini. Maka, bakat pun akan selalu hidup, berkembang jika selalu disupport oleh pikiran positif, dan tentu saja pikiran optimalnya yang memaksanya bertindak. Dari situlah awal sebuah keberhasilan hidup. Bakat pun tidak pernah cukup.
Zig Ziglar, salah satu motivator paling berpengaruh di abad ini mengatakan bahwa seseorang yang ingin mewujudkan mimpi-mimpi, atau menjadi seorang sukses tidaklah cukup jika hanya mengandalkan bakat saja. Bakat tidak pernah cukup! Bakat perlu ditunjang oleh kaidah emas sebuah keberhasilan antara lain komitmen, keyakinan, ketabahan, kedisplinan, keberanian, ambisius, dan semangat. Ketujuh hal ini akan mengefektifkan bakat. Bakat pun serasa akan tetap hidup, berkembang, dan tentu saja mengarahkan orang ke puncak.
Di abad ini, bakat mendapatkan perhatian khusus para motivator, guru-guru kepemimpinan dunia. Hal ini tidak terlepas dari berbagai spekulasi yang muncul bahwa bakat sudah cukup mengantar orang ke puncak, dan mewujudkan mimpi-mimpinya. Masalahnya, tidak sedikit motivator ulung, dan guru kepemimpinan bereaksi keras, dan menyangkal pandangan ini. Mereka beranggapan bahwa bakat jika tidak pernah diasah, dikembangkan akan mati, tidak berguna. Bahkan bisa menipu karena seseorang terlalu berharap bahwa dengan bakat keberhasilan akan datang sendiri, sementara bakat-bakat yang dimiliki tidak pernah diasah, teruji.
Talent is never enough, menurut saya sebuah buku legendaris yang berbicara banyak tentang motivasi, dan talenta-talenta. Buku ini ditulis oleh John C. Maxwell. Maxwell seorang guru kepemimpinan multinasional berkebangsaan Amerika. Dari judul bukunya saja sudah terlihat jika bakat tidak pernah cukup. Sebaliknya, ia harus diefektifkan terus menerus. Nah, bukunya yang terbit tahun 2008 ini menunjukkan tiga belas jalan yang mampu mengefektifkan bakat seseorang menggapai mimpi-mimpinya. Pertama, keyakinan. Keyakinan menjadikan seseorang percaya diri, dengan itu seseorang akan menemukan potensi terbaiknya, dan mempraktekannya. Kedua, gairah. Gairah lebih utama dari sebuah perencanaan matang. Ia menciptakan api, dan memberikan bahan bakar. Ia memaksa orang untuk terus maju, dan menggunakan bakat yang dimiliki sebaik-baiknya. Orang yang mempunyai gairah tidak pernah berhenti sampai impian mereka terwujud. Ketiga, inisiatif. Inisiatif tidak menunggu masalah selesai, sebaliknya selalu bergerak cepat menghidupkan bakat terus-menerus. Momentum adalah sahabat mereka. Keempat, fokus. Bakat dan fokus mengarahkan seseorang untuk menemukan, dan mengembangkan segala potensi terbaik mereka. Ia menolong orang untuk hidup tanpa penyesalan, karena itu mengarahkan serta menggunakan bakat dan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Kelima, persiapan. Persiapan menempatkan orang di posisi yang tepat. Orang yang berbakat lebih mempersiapkan dengan baik hidup sesuai dengan semboyan legendaris dalam dunia motivasi, “segala sesuatu berjalan dengan baik jika dimulai dengan baik.” Keenam, latihan. Melalui latihan, bakat semakin dipertajam terus-menerus. Ketujuh, kegigihan. Ia berbicara tentang penyelesaian. Bakat memberi harapan untuk keberhasilan hidup, tetapi kegigihan menjaminnya. Kedelapan, keberanian. Keberanian mendorong orang untuk berani mencoba, mencoba, dan mencoba lagi. Kesembilan, sikap bisa diajar. Sikap ini membantu seseorang untuk selalu mengharapkan dan berusaha keras untuk belajar. Ia pun membantu memperluas bakat. Kesepuluh, karakter. Karakter menolong orang berbakat untuk mengetahui lebih baik lagi. Ia membangun apa yang ada dalam diri, dan membuat perbedaan dalam diri. Kesebelas, hubungan. Hubungan sangat mempengaruhi bakat terutama orang-orang sekitar. Jika kita bergaul dengan orang-orang positif, dan optimal bakat kita pun dipaksa untuk berkembang, dan sebaliknya. Keduabelas, tanggungjawab. Tanggungjawab memperkuat bakat. Ia memberikan dasar keberhasilan, dan memaksimalkan kemampuan dan kesempatan, serta membangun reputasi yang teguh. Ketigabelas, kerja tim. Melalui kerja tim, bakat-bakat dilipatgandakan. Ketiga belas kaidah emas Maxwell ini merupakan cara paling jitu untuk menghidupkan bakat, dan mewujudkan impian. Karena itu, bakat tidak pernahlah cukup (faktor interen). Bakat perlu disokong oleh factor eksteren, sehingga bakat bukan sekedar istilah, simbol, melainkan ia sungguh hidup, berapi.
Di abad modern nan super canggih ini menjadi seorang sukses sangatlah mudah. Ada banyak orang yang bakatnya sangat pas-passan, lagi malas-malasan. Namun setelah keluar dari bangku kuliah, dalam waktu sekejab ia bisa menjadi orang sukses, pengusaha, punya kedudukan di kepemerintahan, dan lain-lain. Masalahnya, jabatan/kekuasaan, kekayaan, yang serba melimpah bukanlah hasil keringatnya, melainkan orang tuannya. Orang tua memberikannya secara Cuma-Cuma kepada anaknya. Anaknya pun tak perlu berjuang keras layaknya Abraham Lincoln, mantan presiden Amerika, atau Barack Obama yang memulainya dari nol hingga menjadi tokoh-tokoh paling berpengaruh, termasyur di dunia modern kini. Lincoln, Obama adalah ciri-ciri tokoh yang berhasil menggapai mimpi-mimpi indahnya. Mereka tidak percaya hanya pada bakat saja, melainkan mensistesiskannya dengan berbagai factor eksteren yang mampu mendasyatkan bakat yang dimiliki.
Singkatnya, bakat penting, tapi tidak pernah cukup. Ia perlu api, dan minyak supaya menyala. Sebagian besar pemimpin dunia yang berhasil, dan mencapai puncak karena mereka berhasil menyalakan api dalam diri mereka. Dengan kerja keras, kemauan berhasil, akhirnya mengantarkan mereka ke puncak. Bagaimana dengan anda? Semoga!
Penikmat Buku-buku motivasi, kepemimpinan, dan filsafat. Tinggal di Bandung.
Marinus Waruwu
Film ini sangat bagus, inspiratif, sekaligus membingungkan. Ia inspiratif, karena membawa penontonnya pada pertanyaan-pertanyaan mendalam misalnya apa hubungan film ini dengan peristiwa babel versus Alkitab. Mungkinkah ada hubungannya? Atau Babel hanya sekedar tempelan luar belaka yang tidak mengandung makna apa-apa. Selain itu, film yang meraih penghargaan sebagai film drama terbaik dalam ajang Golden Globe 2007 ini membingungkan karena film ini seolah-olah mengisahkan kisah yang berbeda, tak saling berhubungan satu sama lain. Pertanyaan pun muncul mungkinkah ketiga peristiwa yang disajikan oleh sang sutradara film Babel ini saling berhubungan? Jelas punya! Dan untuk mengetahui jawaban tersebut, sebaiknya penonton harus menonton secara keseluruhan sampai selesai sehingga dapat mengetahui jika kejadian-kejadian yang terjadi di tiga benua (Afrika, Asia, Amerika) saling berkaitan satu dengan yang lain.
Sebelum menonton film ini, Bapak Prof. Dr. Bambang Sugiharto mengajak para mahasiswa untuk memberi komentar menarik tentang film Babel ini. Bagi saya itu menarik! Karena memaksa saya untuk tidak sekedar menonton tetapi juga saya diajak untuk sungguh membuka mata, telinga, mengikuti setiap peristiwa, dan tentu saja mengolahnya dengan menggunakan mind, heart, imagination, intuisi, dan lain-lain.
Dalam mata kuliah filsafat masa kini, Bapak Prof. Bambang menjelaskan secara mendetail tentang pendapat Karl Jasper berkaitan dengan komunikasi. Bagi Jasper sebagaimana penjelasan Bapak Prof. Bambang, hidup adalah komunikasi. Artinya bahwa komunikasi itu penting dalam hidup. Bahkan komunikasi menjadi yang utama, pertama dalam eksistensi hidup manusia. Lalu Gabriel Marcel berpandangan lain. Marcel mengartikan komunikasi dalam arti cinta. Komunikasi adalah cinta. Cinta adalah komunikasi. Komunikasi tak pernah hadir tanpa ada cinta. Dan begitu juga sebaliknya.
Kemudian Gadamer filsuf termasyur itu mengartikan komunikasi sebagai sebuah dialog, yang puncaknya pada play (bermain). Anehnya J. Baudrillard justru mengkritik habis-habisan komunikasi mutakhir dalam dunia modern. Menurutnya komunikasi modern terlalu menyajikan realitas secara berlebih-lebihan. Bahwa komunikasi modern hanyalah pure seduction yaitu rayuan, bersifat menggoda, merangsang. Tampaknya seperti kemunikasi, padahal hanyalah sebuah rangsangan, rayuan-rayuan gombal.
Bukan karena dipaksakan, tetapi kalau saya boleh menilai bahwa pendapat para filsuf komunikasi di atas memang terangkum dalam film Babel. Film ini menggambarkan realitas sosial yang sesungguhnya. Ia menyajikan hambatan komunikasi antara budaya, misalnya pertemuan tiga kebudayaan misalnya kebudayaan barat (Kristen), kebudayaan Maroko (Islam), kebudayaan Asia (Jepang). Rasa saling curiga, kesombongan, persaingan, egoisme, seringkali menjadi penghambat terbangunya komunikasi yang baik, yang dapat membawa pada dialog seperti diungkapkan oleh Gadamer. Kecurigaan bahwa pelaku penembakan Susan, istrinya Richard adalah para teroris, tak lain merupakan sebuah kesimpulan yang arogan, bahkan terlalu dilebih-lebihkan oleh media (J. Baudrillard: Hypereality). Padahal, berdasarkan bukti-bukti, pelaku penembakan bukanlah teroris, tetapi anak seorang penggembala domba, yang sebetulnya senapan yang dimiliki bukan digunakan untuk membunuh orang tetapi untuk memburu serigala. Bentuk komunikasi yang terlihat dalam film ini adalah komunikasi dalam bentuk cinta (Gabriel Marcel). Liburan Richard, dan Susan ke Maroko sebetulnya demi memperbaiki cinta mereka, menyelamatkan perkawinan mereka yang memang sudah di ujung tanduk.
Dalam komentar sederhana ini, sebetulnya masih banyak unsur-unsur komunikasi yang tidak saya ungkapkan. Namun saya berkesimpulan bahwa sebetulnya yang ingin ditawarkan oleh sang sutradara dalam film Babel ini adalah sebuah dialog (Gadamer) sehingga rasa curiga, prasangka buruk antara kebudayaan, antara orang per orang dapat dihindarkan. Sebaliknya, jika dialog, rasa percaya, kemanusiaan, kerendahan hati dalam pertemuan dengan kebudayaan lain, maka bukan sesuatu yang mustahilah komunikasi antara manusia sungguh terjalin dengan baik, lancar. Terima kasih!
Marinus Waruwu
Secara etimologis istilah isme merupakan aliran tentang manusia. Karena itu, humanisme adalah aliran yang berkaitan dengan manusia. Secara luas konsep tentang humanisme mau menempatkan manusia sebagai pusat eksistensi, akan tetapi dalam perkembangannya dipengaruhi oleh kultur tertentu.
Dalam konsep humanisme, manusia ditempatkan sebagai pusat. Diantara makhluk ciptaan lain, humanisme mengagungkan manusia. Karena itu, muncul istilah antroposentrisme. Antroposentrisme menjadikan manusia sebagai pusat. Namun, pandangan ini (antroposentrisme yaitu manusia sebagai pusat) dicurigai sebagai akar terjadinya krisis ekologis, terjadinya ledakan penduduk, dan menyebabkan musnahnya spesies non manusia
Sejalan dengan pandangan humanisme, teologi Kristiani juga menempatkan manusia sebagai tuan. Karena itu pun teologi kristiani menyebabkan krisis ekologis. Yang mana, teologi kristiani menyebabkan dominasi manusia atas alam semesta. Yang seharusnya “mengelolah alam” malah mendominasi tanpa batas.Terjadinya ledakan penduduk juga disebabkan karena manusia tidak memperhitungkan ketersediaan alam. Karena itu, mereka mau mengkultuskan manusia.
Ada berbagai macam pandangan yang menganggap manusia sebagai dewa. Dengan kata lain mau mengagungkan manusia sebagai pusat (antroposentrisme). Petrarh, seorang humanis renaisance asal Italia, dan Diderot, seorang humanis Perancis, berpendapat bahwa manusia merupakan asal dan tujuan. Manusia adalah titik pijak dan tujuan dan akhir yang dituju.
Akibat pandangan ini (manusia adalah asal dan tujuan. Manusia adalah titik pijak dan tujuan dan akhir yang dituju) mengakibatkan lahirnya antroposentrisme. Antroposentrisme pada akhirnya melahirkan epistemologi dan antropologi barat yang berpandangan bahwa manusia sebagai pusat. Yang mana pada kodratnya manusia adalah makluk rasional. Pada abad pertengahan pun, teolog dan pujangga Gereja Thomas Aquinas sudah menempatkan manusia pada kodrat rasional. Yaitu manusia sebagai pusat.
Inti pandangan antroposentrisme adalah bahwa bukannya akal budi yang menyesuaikan diri dengan kenyataan, tetapi sebaliknya kenyataan menyesuaikan diri dengan akal budi manusia. Di sini hukum kodrat dimodifikasi supaya sesuai dengan pikiran manusia. Misalnya gempa bumi. Secara natural, jika akan terjadi gempa bumi semua orang dianjurkan untuk meninggalkan tempat terjadinya gempa bumi. Namun, “mind” mencari cara untuk mengatasi masalah tersebut, sehingga orang-orang tetap bertahan di tempat akan terjadinya gempa bumi. Pada tahap lebih tinggi adalah terjadinya manipulasi alam. Misalnya tanaman dimanipulasi sedemikian rupa sehingga sesuai dengan pikiran manusia. Contoh lain yaitu sel telur wanita dan sperma pria dimanipulasi dengan sistem kloning. Atau di Jepang misalnya. Karena padatnya kerja setiap hari, dan jarang bertemu dengan keluarga, suami, atau isteri akhirnya membuat boneka yang mirip persis dengan mereka. Bahkan berhubungan seks dengan boneka yang sesuai dan serupa dengan suami atau istri. Di sini terjadi manipulasi alam yang disesuaikan dengan budi.
Bentuk apa pun yang mencoba memanipulasi alam, maka dengan sendirinya telah terjadi antroposenstrime. Seorang Filsuf Jerman, F. Hegel berpendapat bahwa yang real itu adalah yang rasional (yang nyata adalah yang rasional). Maka, yang ada adalah apa yang dipikirkan oleh manusia. Konsekuensi logisnya adalah manusia menciptakan dalam dirinya termasuk konsep alam. Karena itu, apa yang valid adalah apa yang dipikirkan oleh manusia. Maka jangan-jangan konsep tentang Allah berasal dari pikiran manusia.
Tokoh lain selain Hegel adalah Karen Amstrong. Dalam bukunya The History of God (sejarah Tuhan) mengatakan bahwa sejarah Allah adalah yang dibuat oleh manusia. Manusia yang menciptakan konsep Allah. Karena itu, Allah tidak lain sebagai sebuah perkembangan konsep tentang “Allah” dalam sejarah.
Sementara bapak kemoderenan dan rasionalisme Descartes memberikan pendapat tentang konsep Allah. Ia menggunakan jaminan bahwa rasio ada karena adanya Allah. Descartes mengatakan bahwa rasionalisme ada karena adanya Allah. Dalam bukunya yang berjudul “Verasitas kebenaran ada pada Allah”, ia mengatakan bahwa Allah menempelkan ide pada pikiran manusia tentang adanya Allah. Karena itu, kaum ateis yang menolak Allah menunjukkan adanya Allah. Menurut Hegel, Allah ada jika ada dalam pikiran manusia. Di sini Hegel menempatkan Allah dalam persoalan moral. Sedangkan Descartes memasukkan Allah dalam persoalan pengetahuan. Di sinilah letak perbedaan antara Hegel dengan Descartes tentang konsep Allah.
Dalam perkembangan selanjutnya, muncul tendensi tentang antroposentrime ini. Yaitu munculnya promosi Yahudi untuk hari Sabbath. Kaum Yahudi ingin menggantikan antroposentrisme dengan Hari Sabbath sebagai pusat dan bukan antroposentrisme. Aliran ini disebut sebagai teologi hari sabbath. Menurut pandangan teologi hari sabbath bahwa segala sesuatu diperuntukkan bukan bagi manusia. Berdasarkan kisah penciptaan, manusia diciptakan pada hari ke enam. Berdasarkan pandangan umum, manusia sebagai puncak penciptaan. Namun, menurut pandangan teologi sabbath, manusia bukan puncak penciptaan. Puncak adalah hari sabbath. Pada hari sabbath, manusia dibebaskan dari segala perbudakan, misalnya pekerjaan.
Hari sabbath menyadarkan manusia untuk perlu beristirahat dan bersyukur. Karena itu, haris sabbath adalah hari libur. Dan dalam bahasa inggris kita mengenal nama “holiday” yang artinya hari kudus. Di sini kita membiarkan orang lain, atau Allah berkuasa atas diri kita.
Antroposentrisme menyangkut seluruh manusia. Bentuk sempit dari antropsentrisme adalah etnosentrisme. Contoh dari etnosentrisme, misalnya kekejaman nazi terhadap kaum Yahudi. Sedangkan bentuk sempit dari etnosentrisme adalah egosentrisme. Bentuk egosentrisme ini dapat kita lihat dalam rupa individualisme.
Sebab itu, hari sabbath mau melepaskan diri dari antroposentrisme, etnosentrisme, dan egosentrisme. Dan yang menjadi pusatnya sekarang adalah hari sabbath. Hari kudus. Hari Tuhan.
Dalam konsep egosentrisme, secara alami ingin menunjukkan sense of power, sense of control dalam diri manusia. Contoh dari ini, misalnya seorang bayi disuruh pencet lampu. Lalu ketika lampu tersebut menyala, bayi tersebut senang sekali. Contoh lain adalah kelompok orang gila yang menentukkan jadwal sendiri kapan mereka dibesuk oleh orang luar dan kelompok orang gila yang menentukkan jadwal kapan mereka dibesuk oleh orang luar adalah pihak rumah sakit. Di sini orang gila yang menentukkan jadwal sendiri lebih berbahagia ketimbang kelompok orang gila yang menentukan jadwal besuknya adalah pihak rumah sakit. Kelompok orang gila yang menentukan jadwal sendiri lebih berbahagia karena mereka menentukan sesuai dengan keinginan mereka. Di sini mereka yang mengatur orang luar. Bukan orang luar yang mengatur mereka.
Karena itu, teologi sabbath mau melawan godaan antroposentrisme. Ini adalah sebuah konsep teologi sabbath Yahudi.
Antroposentrisme adalah sebuah ekspresi ekstrim dari humanisme yang mereduksi segala sesuatu semata dalam dan untuk manusia. Seolah-olah kebahagiaan manusia ditentukan sejauh mana manusia itu menjadi pusat.
Sejarawan Amerika yang bernama Edward, mengatakan bahwa sejak dahulu ada banyak konsep humanisme di Yunani, humanisme adalah sebuah mata kuliah kemanusiaan, kebebasan beragama, atau dalam tulisan Gothe, yang mengatakan bahwa humanisme adalah bagaimana manusia menanggapi passion. Atau filsafat tentang manusia sebagai pusat. Jadi, humanisme mempunyai arti significance pada abad ke enam belas.
Dan dalam perkembangan sejarah, ternyata humanisme juga dicurigai sebagai ateis. Mungkin karena menempatkan manusia sebagai pusat. Karena itu, Allah disamakan dengan dewa yang menolong. Hanya bila membutuhkannya baru manusia meminta pertolongan darinya. Kalau tidak berguna, maka tidak dibutuhkan.
Humanisme masuk ke dalam ranah filsafat. Kemudian, menjalar masuk ke manusia. Masuk ke manusia karena didorong oleh ilmu pengetahuan dan teknologi (rasional) yang juga memunculkan gejolak dalam hidup manusia. Maka, muncul pemikiran tentang kebebasan dan kesempatan individual, yang pada gilirannya melahirkan individualisme. Karena itu, Charles Taylor mengatakan bahwa ada tiga penyakit orang modern. Pertama, individualisme. Kedua, keunggulan rasio. Ketiga, despotisme halus.
Individualisme mengakibatkan hilangnya sense of hero, sense of sacrificed, dan sense of otherness. Karena itu, mengakibatkan hilangnya kebermaknaan hidup (sense of meaning). Keunggulan rasio. Di sini mau menempatkan jiwa, badan, roh dihitung secara kalkulasi ekonomis, dan matematis. Artinya hanya memperhitungkan biaya, hasil. Sementara despostisme halus. Di sini ilmu dan teknologi dan seni bukannya membantu manusia tetapi justru memperbudak manusia. Jadi, Ipteks (ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni menjadi Firaun bagi manusia. Sedangkan manusia adalah hambanya Ipteks (Firaun). Ini semua adalah akibat dari konsep humanisme.
Selain mengakibatkan sisi negatif, humanisme juga memunculkan sisi postif dalam kehidupan manusia. Salah satunya adalah menyokong lahirnya dan berkembangnya demokrasi emansipatoris, kesetaraan gender, dan juga memperjuangkan hak-hak orang tertindas, lemah.
Pada dasarnya, tujuan humanisme adalah untuk tujuan kebutuhan hidup dan minat hidup manusia. Bukan untuk abstraksi teologis. Tetapi untuk mencapai kepuasan hidup manusia. Dalam humanisme juga, manusia bertanggung jawab atas keputusannya dan masa depannya sendiri. Dan itulah yang disebut dengan antropsentrisme.
Dalam perkembangannya, humanisme sebagai filsafat memandang alam semesta dalam sudut pandang manusia. Alam semesta dipikirkan dalam konteks kepentingan manusia. Dan sejak munculnya kemoderenan pada awal abad ke enam belas, humanisme juga mulai muncul dan menjadikan manusia sebagai central.
Sebagai ilustrasi: dalam kompas terbitan 8/2 tentang “humanisme” disebutkan bahwa baru 2500 lalu manusia sungguh-sungguh berpikir secara filsafat. Sebelumnya, manusia berpikir dalam rangka memenuhi kebutuhannya dan berpikir mitos. Di sini konteks berpikir adalah sebuah reaksi terhadap kebutuhan hidup manusia.
Selain itu, humanisme bukanlah filsafat per se, tetapi suatu cara pandang hidup dengan kultus manusia. Tujuannya adalah untuk mencapai cita-cita kultik yaitu kebahagiaan manusia. (Bahan kuliah Philosophy of Man by Dr. Antonius B. Subiyanto).
Marinus Waruwu
Barack Obama akhirnya membuat sejarah. Ia bukan saja menjadi Presiden kulit hitam pertama di Gedung Putih (The United State), tetapi juga menempatkan dirinya sebagai salah satu Presiden termuda Amerika serikat. Menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat memang bukan hal muda. Bagi orang yang berasal dari kelompok minoritas seperti Obama (Afro-Amerika) atau (Alm) mantan Presiden Jhon F. Kennedy (Katolik) akan sulit menembus tembok pemisah nan kokoh dari kelompok mayoritas. Karena itu, dalam konstitusi lama Amerika, seorang calon Presiden harus memenuhi syarat-syarat yang mutlak ada dalam diri setiap calon Presiden. Yaitu demografi White, Anglo-Saxon, and Protestant (WASP). Jika syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, misalnya seorang Afrikan, Katolik, atau Indian, lebih baik mundur dari pertarungan. Sebab hanya menghambur-hamburkan uang untuk biaya kampanye kandindat, yang hasilnya sudah langsung ditebak. Singkatnya, secara tradisional, golongan WASP tidak akan begitu saja menyerahkan kekuasaan kepada golongan minoritas.
Jhon F.Kennedy dan Barack Obama merupakan dua generasi Amerika yang datang pada waktu yang berbeda. Mereka mampu menembus tembok pemisah yang telah berdiri kokoh kuat selama berabad-abad. Pada tahun 1960-an, Kennedy membuat sejarah sebagai Presiden Katolik pertama (minoritas), dan juga termuda. Lalu pada tahun 2008, Barack Obama keturunan Afro-Amerikan, dan pernah tinggal di Indonesia yang mayoritas beragama muslim mampu menarik simpati warga Amerika untuk memilihnya dalam pertarungan melelahkan dengan lawannya dari Partai Republik. Pidatonya, pembawaanya, visi dan misinya yang menggemakan tema perubahan (Change, we can believe in) yang berlawanan dengan status quo mampu menyihir Amerika. Ia pun berhasil mengalahkan lawannya secara meyakinkan, menang mutlak.
Kemenangan Obama menunjukkan sisi positif dari demokrasi Amerika. Demokrasi Amerika telah menembus batas. Demokrasi Amerika bukan hanya membongkar tembok kebencian ras, agama, budaya. Tetapi juga menjadi contoh, teladan kepada setiap negara di dunia bahwa demokrasi tidaklah buruk. Justru membongkar sekat-sekat, dan merekatkan persaudaraan antara umat manusia. Selain itu, demokrasi juga memberi peluang memimpin kepada mereka yang berasal dari golongan bawah. Tidak semata golongan elit, atau golongan yang berdarah biru.
Bagaimana dengan kita?
Kemenangan Obama dalam pesta demokrasi Amerika menjadi inspirasi untuk rakyat Indonesia dan dunia. Dalam konteks Indonesia, seperti juga di Amerika, ada tiga tembok pemisah yang seringkali menjadi pemecah belah bangsa ini.
Pertama, dominasi agama mayoritas terhadap agama minoritas (religion domination). Religion domination tertentu menjadi hal biasa di negeri ini. Bahkan ada istilah yang mengatakan bahwa, Presiden harus berasal dari agama mayoritas. Itu berarti menutup pintu bagi kaum minoritas untuk tampil, mencalonkan diri sebagai seorang pemimpin negeri ini. Maka tidak heran bila selama berdirinya republik ini, tak pernah muncul pemimpin yang berasal dari agama minoritas.
Kedua, dominasi pribumi terhadap non-pribumi (indigene domination). Etnik pribumi yang mayoritas identik dengan warga negara asli Indonesia. Sedangkan Etnik non-pribumi yang minoritas, identik dengan etnis Tionghoa, dan para pendatang lainnya. Di negeri ini, yang nota bene pernah terpilih menjadi Ketua Komisi Hak Asasi Manusia PBB, ternyata masih mempraktikan diskriminasi terhadap etnik minoritas terutama etnik Tionghoa. Bahkan ada image warga pribumi yang mengganggap etnik Tionghoa sebagai pendatang dan bukan sebagai warga negara Indonesia asli. Dengan itu, etnik minoritas merasa diperlakukan tidak adil, walaupun mereka sendiri lebih Indonesia dari warga pribumi.
Ketiga, dominasi suku mayoritas terhadap suku-suku minoritas (ethnic group domination). Di negeri ini, kita sangat prihatin terhadap praktik-praktik sukuisme, dan golongan tertentu. Biasanya itu terjadi antara suku mayoritas dan suku minoritas. Misalnya, menjelang pemilu, kita seringkali mendengar istilah Jawa dan luar jawa. Jika mau menjadi Presiden berarti harus menguasasi pulau jawa. Atau menjadi seorang Presiden berarti harus seorang Jawa. Akibatnya selama berdirinya republik ini, hampir semua penguasa berasal dari Pulau Jawa atau suku jawa.
Ketiga bentuk dominasi yang mengakibatkan diskriminasi terhadap kaum minoritas di atas menjadi refleksi bersama di republik tercinta ini. Namun, kemenangan Barack Obama memberi secercah harapan untuk kaum minoritas agar berani tampil, siap memimpin negeri ini. bahwa dalam demokrasi tak ada yang tak mungkin seperti pengalaman Obama di Amerika.
Masalahnya adalah demokrasi Amerika berbeda dengan demokrasi Indonesia. Pengetahuan dan pengalaman orang Amerika dalam berdemokrasi berbeda dengan pengalaman dan pengetahuan orang Indonesia dalam berdemokrasi. Jika warga Amerika menerapkan demokrasi secara total, maka di Indonesia masih memperhitungkan agama, suku, dan golongan tertentu.
Karena itu, demokrasi sungguh-sungguh menang, tegak di republik ini bila demokrasi diterapkan secara total seperti di Amerika. Demokrasi tidak memperhitungkan ras, agama, suku, atau golongan tertentu. Demokrasi mampu menembus sekat-sekat, membagun persaudaraan, menegakkan persatuan bangsa. Demokrasi mampu merobohkan tembok pemisah antara agama mayoritas dan agama minoritas (religion domination), Etnik pribumi dan non pribumi (indigene domination), suku mayoritas dan suku minoritas (ethnic group domination).
Kita berharap agar di republik tercinta ini demokrasi sungguh-sungguh menang, dan tegak. Demokrasi menang dan tegak, jika tidak ada lagi tembok pemisah antara mayoritas dan minoritas. Yang ada adalah persaudaraan sejati. Dalam persadaraan sejati tercipta persatuan dan kesatuan sejati. Sebab semua saling menghormati, dan menerima sebagai saudara demi tujuan bersama yaitu masyarakat adil, damai, dan sejahtera. Maka, demokrasi menang!
Marinus Waruwu
“Kekonyolan, ketidakberesan, dan kebodohan sedang menimpa negeri ini. Ironisnya, kesontoloyo-an itu jutru terjadi di pihak elite politik dan pemerintahan kita yang seharusnya menjadi ujung tombak kemajuan bangsa” Begitulah opini Aloysius Budi Purnomo menanggapi pernyataan kepala badan intelijen negara yang menengarai bahwa sejumlah mentri Indonesia bersatu bermental sontoloyo karena berada di belakang aksi unjuk rasa yang menolak kenaikan harga BMM (Opini Kompas 7/7 2008).
Sebetulnya sebutan mental sontoloyo tidaklah tepat bahkan merendahkan, dan menyudutkan posisi seseorang baik itu sebagai pejabat publik, maupun sebagai rakyat biasa. Seolah-olah para elite negeri ini sungguh berada pada taraf yang sangat memprihatinkan sehingga pantas disebut bermental sontoloyo yang berarti konyol, tidak beres, dan bodoh. Tidak semua elite politik dapat digolongkan bermental sontoloyo, yang konyol, tidak beres, dan bodoh. Karena ada juga elite politik yang sungguh-sungguh mengabdikan dirinya hanya untuk membangun kesejahteraan, dan kedamaian rakyatnya. Biasanya mereka bukan hanya mengumbar wacana. Tapi juga tindakan (action) nyata untuk mewujudkan suatu masyarakat yang sejahtera, damai.
Persoalan yang sedang melanda negeri ini memang tidak dapat disangkal lagi. Mulai dari masalah kemiskinan yang telah memakan banyak korban jiwa akibat kelaparan seperti kasus busung lapar yang sering melanda daerah NTT, dan kasus-kasus bunuh diri secara massal akibat tidak mampu menanggung biaya hidup yang makin mahal. Masalah korupsi yang kian hari kian subur di lingkungan para pejabat pemerintahan juga tidak kalah hebatnya. Para pejabat seolah gelap mata dan berlomba-lomba masuk bui karena tertangkap basah melakukan tindak pidana korupsi. Elite politik gelap mata terhadap penderitaan rakyat yang semakin terjepit akibat semakin beratnya beban hidup ini. Berlomba-lomba masuk bui karena memperkaya diri sendiri dari uang hasil jerih payah rakyat ketimbang menggunakannya untuk kesejateraan rakyat.
Anehnya, kini korupsi tidak hanya subur di kalangan para pejabat eksekutif pemerintahan. Tapi sekarang telah merambah ke berbagai lembaga negara. Lembaga legislatif misalnya. Anggota DPR yang notabene penyalur aspirasi masyarakat agar ideal masyarakat sejahtera tercapai, malah terlibat tindak pidana korupsi. Puncaknya adalah terungkapnya kasus pemerasan, penyuapan yang melibatkan sejumlah anggota DPR diantaranya kasus Al-amin Nasution dengan koleganya dari pemerintahan daerah Bintan, juga kasus mengalirnya dana Bank Indonesia ke sejumlah anggota DPR periode 1999-2004. Kasus-kasus demikian sudah cukup memberi gambaran kepada masyarakat bahwa penyalur aspiranya di Senayan ternyata bobrok juga. Selain kasus korupsi anggota DPR, kasus serupa justru muncul di lingkungan kejaksaan sendiri. Sebagai sebuah lembaga negara yang berwenang untuk menegakan hukum serta memberantas segala macam praktik korupsi di negeri ini malah kesandung korupsi. Dan ujung-ujungnya masuk bui seperti yang dialami Jaksa Urip Tri Gunawan yang di vonis 15 tahun penjara karena terlibat berbagai tindak pidana korupsi.
Kasus-kasus diatas hanyalah sebuah gambaran kecil bahwa perilaku para elite politik di negeri sungguh-sungguh memprihatinkan bahkan membingungkan rakyat. Amanat untuk membangun kehidupan rakyat yang lebih baik ternyata tidak sungguh-sungguh dilakukan. Bahkan terlupakan. Sebaliknya, sibuk dengan urusan pribadi, keluarga, dan kepentingan partai. Elite politik seolah terasa nyaman dengan penderitaan rakyat.
Maka pernyataan “bermental sontoloyo” yang ditunjukan kepada para elite politik negeri ini memang layak disandang. Menempatkan kepentingan pribadi diatas kepentingan umum jelas sebuah kekonyolan, ketidakberesan, dan kebodohan, seperti yang dikatakan Aloysius B. Purnomo. Bahkan mengingkari amanat yang telah diberikan oleh rakyat.
Elite Politik Kreatif dan Possesif
Dalam bukunya ideal politic, Sir Bertrand Russell mengatakan bahwa biasanya ada dua dorongan yang saling tarik menarik dalam diri elite politik. Pertama, dorongan possesip yang bertujuan untuk mendapatkan benda-benda pribadi. Menurutnya benda-benda pribadi ini tidak dapat dibagikan kepada orang lain melainkan untuk kekayaan pribadi. Dorongan ini bersumber dari kehendak untuk “memiliki”. Kedua, dorongan kreatif (konstruktif) yang mengarah pada usaha untuk menyediakan benda-benda yang ada untuk dunia, kesejahteraan masyarakat. Maka di sini tidak terdapat privacy (milik pribadi) dan tidak possesip.
Menurut, B. Russell, dorongan possesip tidaklah membuat hidup manusia lebih baik. Melainkan hanya melahirkan para elite politik kaya, yang berdiri diatas penderitaan rakyat. Dorongan possesip yang telah, sedang dipraktekkan sejumlah pemimpin di dunia ini hanya akan menimbulkan kesengsaraan rakyat akibat kemiskinan, kekejaman yang tiada hentinya. Singkatnya, dorongan possesip hanya akan melahirkan pemerintahan yang represif, totaliter, korup, dan acuh tak acuh terhadap penderitaan rakyat. Sebab itu, dorongan ini perlu dihapus di muka bumi.
Sebaliknya, dorongan kreatif yang bersifat konstruktif adalah harga mati untuk kemajuan manusia pada abad ini. Menurut B. Russell, kehidupan rakyat dikatakan baik apabila dorongan-dorongan kreatif memainkan peran lebih banyak ketimbang dorongan-dorongan possesip. Dorongan kreatif para elite politik mengantarkan masyarakat ke tangga kemakmuran, dan kedamaian dan bukan sebaliknya. Dalam dorongan kreatif ada semacam totalitas seorang pemimpin. Elite politik menjabat sebagai pejabat publik bukan untuk mencari kekayaan pribadi, mencari popularitas kosong. Tapi untuk melayani rakyat dengan sepenuh hati. Segala hal yang berbau self-interest dibuang jauh-jauh demi kesejahteraan masyarakat banyak. Menurutnya, ada dua cara untuk membangun dorongan kreatif dalam diri elite politik. Pertama, dengan memberi kesempatan untuk dorongan-dorongan kreatif dan dengan membentuk pendidikan kompeten untuk memperkuat dorongan yang bersifat konstruktif tersebut. Kedua, dengan mengurangi atau mengekang keinginan-keinginan pribadi (ego) atau keluar dari dorongan-dorongan possesip. Jika itu tercapai maka akanlah dengan mudah sebuah negeri akan melahirkan elite politik yang peka terhadap penderitaan rakyat. Dan bukan golongan elite politik sontoloyo yang acuh tak terhadap kepentingan masyarakat banyak.
Melihat perilaku elite politik yang terlibat kasus korupsi, acuh tak acuh terhadap penderitaan rakyat, dan lebih memperjuangkan kepentingan pribadi ketimbang rakyat banyak sudah tepatlah mereka dijuluki sebagai “elite politik sontoloyo”. Saya pun menerima argumen brilian Aloysius Purnomo tentang elit politik bermental sontoloyo! Atau dalam bahasa Russel elite politik posesif. Maka, elite politik yang didambakan oleh seorang Bertrand Russell belum muncul di negeri ini. Para elite politik negeri ini telah terperangkap dengan sikap possesip mereka yang hanya bergulat dengan ego, kepentingan pribadi. Pertanyaan yang muncul adalah akankah elite politik negeri ini menjadi lebih kreatif dalam mewujudkan kepentingan rakyat banyak atau justru tetap mempertahankan sikap possesif mereka sehingga usaha untuk mewujudkan kesejateraan rakyat banyak terbengkalai terus-menerus? Semoga!
Marinus Waruwu
Rokok, Sebuah Isu Kontroversial
Rokok! Sebenarnya “nama benda” ini sangat kontroversial. Di satu sisi ia menawarkan keenakan, atau kenikmatan bagi setiap pemakainya. Di sisi lain juga, secara tidak langsung memberi efek yang sangat buruk bagi kesehatan pemakainya. Efek buruknya pun bukan hanya bagi pemakainya saja, tetapi juga memberikan efek buruk bagi kesehatan setiap orang, yang pada saat itu berada di dalam lingkungan orang-orang yang menghirup rokok (smokers). Bahkan pabrik-pabrik rokok sangat menyadari efek buruk rokok ini bagi kesehatan manusia, hal ini sangat jelas dari tulisan yang tertera disampul luar rokok yang berbunyi : “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”. Himbauan ini, paling tidak menyadarkan para smokers bahwa merokok dapat mempunyai efek yang sangat buruk bagi kesehatan manusia. Pertanyaannya adalah kenapa para smokers masih menghirup rokok? Lalu pabrik-pabrik rokok ini sudah menyadari dengan sangat bahwa rokok memiliki efek buruk bagi kesehatan manusia, namun mengapa masih saja membuat dan menyebarkan rokok-rokok tersebut ke pasaran? Dengan itu pun orang akan beranggapan bahwa himbauan tersebut tak lebih dari sebuah coretan kecil yang tak memiliki makna sama sekali, karena memang dibalik peredaran rokok tersebut mempunyai kepentingan ekonomi yang sangat menyenangkan bagi kaum kapitalis untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Sementara di sana sini semakin banyak para smokers yang terserang penyakit, lalu meninggal akibat merokok, bahkan ada di antara smokers yang melakukan kriminalitas demi rokok. Itulah sebab mengapa rokok dikatakan sebagai sebuah isu kontroversial. Namun sebelum masuk terlalu jauh, saya akan menjelaskan secara singkat tentang sejarah rokok ini.
Rokok, dan Sejarahnya
Rokok adalah silinder dari kertas yang berukuran antara 70 sampai 120 mm. Rokok berisi daun-daun yang telah dicacah. Rokok dibakar ujungnya, lalu dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut. Biasanya, rokok dijual dalam bungkusan. Kendati mempunyai efek buruk bagi kesehatan manusia, namun rokok tetap saja diedarkan di pasaran. Bahkan sejak beberapa tahun terakhir, bungkusan-bungkusan rokok tersebut disertai dengan pesan kesehatan yang memperingatkan para smokers, dan juga orang-orang yang tidak, dan mau mencicipinya bahwa rokok memilik efek yang sangat buruk untuk kesehatan manusia, misalnya kanker paru-paru, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Dalam kenyataanya, himbauan ini hanyalah tinggal hiasan, sebab jarang dipatuhi oleh orang-orang yang telah kecanduan oleh rokok.
Menurut sejarahnya, manusia di dunia yang pertama kali merokok adalah suku bangsa Indian di Amerika. Biasanya orang Indian menggunakan rokok untuk keperluan ritual seperti memuja roh atau dewa-dewi. Namun, pada abad 16, ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah itu ikut mencoba-coba untuk menghisap rokok, yang kemudian membawa tembakau ke Eropa untuk keperluan rokok dan juga ekonomis. Hanya saja, penggunaan rokok dalam masyarakat Indian berbeda dengan masyarakat Eropa. Jika rokok dalam masyarakat Indian digunakan untuk keperluan ritual, maka rokok dalam masyarakat Eropa justru digunakan untuk kesenangan semata-mata. Dalam perkembangan selanjutnya sekitar abad 17, rokok masuk ke Negara-negara Islam seperti Turki yang dibawa oleh para pedagang dari Spanyol.
Di jaman modern pun, rokok bukan lagi sesuatu yang asing dalam kehidupan manusia. Jika pada awalnya, rokok hanya dinikmati oleh kaum bangsawan, atau kaum tetua di sekitar altar penyembahan berhala dalam masyarakat Indian, sekarang telah menjadi salah satu gaya hidup (life style). Ia sebuah pilihan yang membudaya dalam masyarakat terutama di antara kaum remaja dan pria dewasa, yang memang sebagian besar sebagai penghirup rokok dengan berbagai aneka jenisnya. Latar belakang kaum laki-laki merokok pun beraneka ragam. Ada alasan karena merokok dapat memberi kenikmatan, ketenangan, kebahagiaan. Ada juga alasan karena faktor gengsi supaya disebut jagoan. Hebat! Merokok berarti identik dengan kelaki-lakian, yang adalah sebagian besar dari smokers. Tidak merokok berarti terlalu kebencong-bencongan, feminim, tidak punya harga diri. Itu berarti, makna eksistensial dari rokok itu sendiri kabur, hilang, dan malah semakin ditarik ke masalah gender antara kaum pria, yang memang identik dengan smokers, dengan kaum wanita, yang sebagian kecil dari smokers. Dengan itu, makna eksistensial dari rokok, di mana pada awalnya mempunyai tujuan religius telah berubah menjadi salah satu a life style, a choce, yang membudaya dalam dunia modern. Ia bukan lagi salah satu sarana untuk melangsungkan peribatan untuk Yang Kuasa, namun justru sebagai sarana untuk mencapai kebagiaan, kenikmatan, dan juga penderitaan manusia di bumi ini.
Efek Asap Rokok
Seperti yang telah dijelaskan berulang-ulang di atas bahwa selain memberi efek kenikmatan, kebahagian bagi para penikmat rokok, asap rokok juga dapat menyebakan efek buruk bagi kesehatan para penghirup serta orang-orang yang berada di sekitar penghirup rokok. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari wikipedia, asap rokok dapat menyebabkan beberapa penyakit antara lain kanker pada tubuh, mengandung bahan pengiritasi mata dan pernapasan, menyebabkan kecanduan, berbagai penyakit lainnya serta rokok juga dapat menyebabkan dosa seperti pandangan golongan kalvinis dan kaum reformasi lainnya.
Rokok, Antara Kenimatan dan Penderitaan
Rokok terentang antara kenikmatan dan penderitaan manusia! Sangat mungkin pendapat ini disangkal oleh mereka yang menganut paham patristik, skolastik, bahkan posmodernisme sekalipun. Biasanya, para pelopor dan penganut aliran-aliran besar tersebut masih berkutat seputar pertanyaan apa itu kenikmatan, kebahagiaan bagi manusia. Lalu apa itu penderitaan bagi manusia. Apakah penderitaan ada atau tidak. Pertanyaan-pertanyaan ini memang dicoba dijawab secara mendetail oleh berbagai aliran filsafat besar dunia seperti filsafat patristik, yang diwakili oleh St. Agustinus, dll dan juga skolastikat oleh St. Thomas Aquinas, dll. Bahwa yang menentukan kebahagiaan seseorang tergantung dari dosa dan rahmat Allah. Bila dosa besar berarti rahmat semakin mengecil. Dengan itu pun kebahagiaan di akhirat hampir tidak ada. Ia pun akan menderita di neraka. Sebaliknya, jika dosanya kecil berarti peluang untuk memperoleh rahmat dan kebahagiaan sangat besar. Berbeda dengan pandangan ini, para filsuf modern seperti Frederik Nietszche, menganggap bahwa kebahagiaan adalah sebuah nihilisme. Baginya kebahagiaan tidak ada, dan begitu juga dengan penderitaan. Atau pendapat lain yang menegaskan bahwa kebahagiaan hanyalah sebuah ilusi, fantasi, yang tidak pernah menjadi kenyataan. Begitu juga dengan penderitaan. Bahwa penderitaan memang sudah dikondisikan seperti itu, dan manusia tidak mampu lari darinya. Itu karena manusia hanyalah makluk kecil yang memang dikondisikan untuk menderita.
Terlepas dari perdebatan para filsuf di atas tentang kebahagiaan dan penderitaan, saya mau menegaskan bahwa rokok terentang antara kebahagiaan dan penderitaan. Rokok memberi efek kenikmatan, kebahagiaan bagi pemakainya. Atau istilah kerennya juga terasa lebih maskulin atau jagoan. Namun di sisi lain rokok justru memberi efek penderitaan bagi manusia. Rokok dapat membuat seseorang menderita, dan gila! Ketika seorang smoker tidak mempunyai uang untuk membeli rokok sementara ia sangat membutuhkan, maka ia dengan sadar atau tidak dapat berbuat kriminal, misalnya mencuri, merampas hak milik orang lain demi memenuhi keinginan. Selain itu, berbagai penyakit yang disebabkan oleh rokok juga sebagai sebuah penderitaan. Baru-baru ini ada sebagian dosen saya di kampus, dan kasus lain menderita penyakit jantung, kanker, kematian janin sebelum lahir, impotensi, dan gangguan kehamilan. Penyebabnya adalah rokok. mereka pun dengan lantang, terbuka mengakui bahwa sejak remaja hingga kepala enam telah menjadi perokok berat. Dan itu tidak bisa dihentikan karena kecanduan. Akibatnya, kenikmatan yang mereka dapatkan sia-sia (nihilisme) belaka, sebaliknya berbagai penyakit menggerogoti tubuh mereka. Lalu di manakah kenikmatan itu? Kendati menyakitkan, smokers akan menjawab: ASAP ROKOK!
Marinus Waruwu
Kebudayaan modern sangat menjunjung tinggi esensi manusia, dan nilai keberadaan negara. Tetapi lebih radikal lagi pemahaman tentang kebudayaan sebagai hidup sosial, pengetahuan sejarah dunia, simbol-simbol, serta makna dari segala aktivitas manusia dalam segala bentuknya. Kebudayaan diperluas dalam pengertian sekular, yang terdiri dari berbagai macam ilmu yaitu sejarah, sosiologi, belajar kesusasteraan, atau tentang belajar tentang kebudayaan secara keseluruhan. Dalam buku ini berdiskusi tentang kebudayaan itu sendiri pada abad dua puluh satu di Eropa, khususnya di Inggris.
Dalam hal ini, culture merupakan topik besar dalam tradisi intelektual di masa lalu. Penulis buku metaculture bermaksud juga mengkritik kebudayaan tersebut, yang dalam buku ini saya sebut sebagai metaculture, atau tulisan metakultur. Metakultur menunjuk pada pasca kebudayaan. Ia menunjuk pada sejarah sosial, situasi manusia, misalnya industri dan kapitalisme, atau kemoderenan. Selain itu, istilah ini merupakan istilah dan konsep kritik terhadap kebudayaan itu sendiri.
Kebudayaan merupakan sebuah istilah yang mengandung banyak makna. Kebudayaan dengan jelas menunjuk pada sesuatu yang berbeda satu sama lain (orang asing). Di sini prinsip besat organisasi adalah sebuah perbandingan (comparative), dua hal berlawanan dalam tradisi seperti yang ditulis dalam kebudayaan yaitu kritik kebudayaan dan belajar kebudayaan (culture studies). Harus dipahami bahwa kedua bentuk ini saling beroposisi satu sama lain.
Dalam bahasa Jerman dikenal istilah kritik kebudayaan (kulturkritik), yang dalam bahasa Inggris sebagai kritik terhadap kebudayaan juga (cultural criticism). Kritik-kritik kebudayaan menyangkut: kritik kesusasteraan, resensi film, komentar-komentar terhadap fashion, atau hal-hal yang berbau seksual yang dikenal sebagai kritik budaya (culture criticism).
Kritik kultur (kulturkritik) dalam budaya klasik Eropa berkembang sekitar pada abad-18 sebagai sebuah bentuk kritik kebudayaan. Kritik kebudayaan ini lebih jelas pada norma-norma yang dianggap negatif yang ada pada kapitalisme, demokrasi, pencerahan. Kemudian di Perancis hal ini disebut dengan istilah civilisation, yang menyangkut tentang nilai-nilai sosial dan proses kehidupan sosial di Perancis.
Kebudayaan merupakan sebuah nilai normatif. Kebudayaan adalah the passion for sweetness and light, the study of perfection, hamonious dan general. Ia membantu kita memahami sesuatu itu sebagaimana adanya pada dirinya. Kebudayaan dalam perkembangannya berakibat dalam nilai moral yang dibangun manusia dalam proses budaya. Maka tujuan dari kebudayaan tidak lain adalah untuk memanusiakan manusia. Ia membentuk pribadi manusia menjadi lebih baik melalui tata nilai yang dibangun. Ia merupakan dasar kerohanian manusia, yang pada akhirnya mungkin membentuk a civil order. Selain itu, kebudayaan juga menjadi pengikat, ideal hidup, tentu saja menjadi penjaga kesatuan manusia dalam sebuah komunitas. Hal-hal ini tidak lain adalah nilai positif dari kebudayaan itu sendiri. Maka dalam hal ini kebudayaan dapat menjadi “pembangun atau bersifat konstruksi” yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Seperti dijelaskan dalam buku ini bahwa kritik kultur dalam bahasa Jerman bermaksud untuk membela kemanusiaan itu sendiri, serta nilai-nilai budaya secara universal. Kebudayaan menjadi sebuah bentuk simbol kehidupan dalam masyarakat. Karena itu, kebudayaan seharusnya adalah proses memanusiakan manusia dengan berbagai latar belakangnya. Artinya bahwa kebudayaan yang terbentuk pada dasarnya saling berbeda. Perbedaannya tergantung dari situasi maupun kondisi, tempat. Selain itu dijelaskan juga bahwa kebudayaan itu selalu berubah, bertumbuh sebagaimana tuntutan, perkembang jaman.
Dan pada jaman romantik semakin menegaskan apa itu kebudayaan yang sesungguhnya. Dalam pandangan romantik, kebudayaan dilihat sebagai cultural-as-national-value, as tradisional virtue of a people, yang dalam kenyataanya bertentangan dengan humanisme para pemikir tertentu.
Perubahan dan perkembangan dunia dengan adanya nasionalisme sejak pertengahan abad-19 sampai sekarang ini telah membuat beredarnya kebudayaan itu secara universal, yang berefek di dalam pengetahuan, maupun dalam kebiasaan etnis tertentu. Dengan itu semakin memacu berkembangnya ilmu antropologi. Kebudayaan dan atau antroplogi sosial mendorong manusia untuk semakin mempelajari kebudayaan itu sendiri yang berada dalam kerangka “Culturology sederhana”sebagai sebuah pengetahuan superorganik. Yaitu lebih mengedepankan learned ketimbang hanya dalam perasaan semata, lebih keras, sebagai simbol kehidupan masyarakat. Kemudian, culture studies dapat menjadi nilai inspirasi dalam membangun, membentuk kehidupan baru, yang hal ini sendiri telah terbukti di Inggris. Culture studies bukan hanya memperlajari tetapi menarik kembali kebudayaan itu sebagai suatu pengakuan sejarah dengan memberi makna dari nilai-nilai yang dilahirkan oleh kebudayaan itu sendiri.
Menurut penulis sendiri, culture studies cenderung tidak mengakui dirinya sendiri. Bahwa culture studies tidak lain merupakan tendensi utama meniadakan secara khusus nilai sosial dari kulturkritik, yang disebut sebagai sebuah strategi imajinasi. Yang adalah bentuk selaras, coordinates dari culture, authority, politic.
Culture di sini adalah sebuah objek, tetapi juga krusial karena ia subjek ideal. Prinsip kultural menetapkan secara etis kondisi kevalidan intelektual praktis: metaculture, yaitu secara normal, diantara hal lain, dengan merefleksikan makna dari pekerjaaan intelektual. Terakhir adalah otoritas sosial. Kekuatan (power), perasaan tidak pandang bulu telah menjadi suatu standard dalam culture studies, sebagai instrumen kasar yang tidak cukup pada nilai secara teori. Otoritas sebagai sebuah bentuk perintah, hukum, dan secara normal tampak pada yang mempertahankannya. Metakultur juga menyangkut masalah klaim otoritas sebagai respek atas hubungan sosial secara keseluruhan. Yang mana, prinsip kebudayaan adalah dasar dari public virtue atau kebaikan publik. Metakultur konsentrasi pada subjek idel kritik kultural dan culture studies. Kemudian politik menjadi sasaran kritik kultural. Bahwa sebagaimana dijelaskan dalam buku ini bahwa politic seringkali menjadi biang keladi hancurnya kebudayaan manusia itu sendiri. Hal itu dapat kita melihat dari perang yang terjadi antara negara, maupun dalam negara yang sama, atau agama.
Pada bagian kedua buku ini fokus pada rekonstruksi konsep-konsep pembentukan culture studies, secara khusus dalam tradisi kebudayaan Inggris. Hal ini dilakukan dengan menggunakan analisis, politik jaman sekarang, dengan etnik, marxisme dan kontreoversi populisme dalam analisis kebudayaan. Bagian I dan II berkaitan dengan kebudayaan, konflik pengertian, makna dan idea politik. Dalam hal ini juga mengandung sejarah, logika metakultural, utopia, kritik kebudayaan serta culture studies baru di mana ada tegangan hubungan antara kebudayaan dan politik.
Bagi saya buku ini sangat mengesankan. Bahwa dalam penjelasannya dari bab ke bab sebetulnya mau mengkritik kebudayaan modern yang justru tidak membangun kemanusiaan. Dapat kita ambil contohnya adalah perang dunia. Dalam perang dunia mengakibatkan manusia kehilangan identitasnya sebagai manusia yang sunggu-sungguh, tetapi hidupnya menjadi seolah seperti binatang yang tak ada nilai sedikit pun. Maka kita tidak heran jika dalam buku ini sendiri menjelaskan tentang anti fasis. Karena sikap-sikap seperti fasis, nazi tidak pernah membangun kemanusiaan dan malah sebaliknya.
Terima kasih
Marinus Waruwu
Sebuah Pengantar
Kecuali di Negara-negara Amerika Latin, sebagian besar Umat Katolik maupun umat beragama lain di luar benua Amerika seringkali bertanya-tanya apa yang menyebabkan munculnya teologi pembebasan di Amerika Latin? Apakah Gereja Katolik di sana yang terkenal dengan konservatismenya menjadi penyebabnya sehingga memungkinkan lahir dan berkembangnya teologi pembebasan? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini kurang lebih memberi gambaran bahwa di Amerika Latin Gereja Katolik punya pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat terutama dalam kehidupan beragama dan juga bidang kehidupan lainnya. Maka ketika terjadi sesuatu hal terutama yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Amerika Latin pada umumnya, dengan sendirinya Gereja Katolik akan selalu dikait-kaitkan.
Thomas C. Bruneau, seorang pakar yang punya perhatian terhadap kemunculan teologi pembebasan di Amerika Latin mengatakan bahwa Gereja di Amerika Latin mulai melakukan pembaharuan karena ingin mempertahankan pengaruh mereka. Dengan berbagai macam masalah yang mendera seperti persaingan dari agama-agama lain terutama Protestan, persaingan keras diantara faksi-faksi politik yang tidak jarang menyebabkan jatuhnya korban jiwa, terjadinya krisis keuangan telah menyebabkan para pejabat Gereja untuk turun langsung ke masyarakat. Gereja berusaha untuk aktif dalam pelayanan dan tidak pasif. Bukan hanya itu, Gereja juga mulai memosisikan diri di pihak rakyat biasa yang menderita. Toh, dalam kenyataanya justru sebagian besar para pejabat Gereja ketika itu masih mempertahankan status guo, dan seakan bersekongkol dengan pihak penguasa baik penguasa dalam bidang politik maupun bidang ekonomi yang berada di bawah naungan kapitalisme Amerika serikat. Pejabat Gereja yang mempertahan status guo ini berasal dari golongan konservatisme. Golongan ini dekat dengan Vatikan. Sementara golongan yang beraliran kiri sebagian besar dimotori oleh para Romo-romo tarekat, yang dikemudian hari melahir teori-teori tentang teologi pembebasan. Yang menarik bahwa Para Romo Tarekat tersebut, mereka tidak hanya menyediakan teori untuk pembebasan Kaum miskin tapi juga mereka juga terlibat langsung memperjuangkannya. Maka tidak heran kalau sebagian besar Romo-romo Tarekat banyak yang menjadi korban kekerasan rezim militer yang beringas. Bahkan diantara mereka pun, ada beberapa Uskup (Gembala Umat) yang mengurbankan dirinya, jiwanya demi umat yang dicintainya. Alasan umum bahwa Gereja akan menuju suatu perubahan ketika itu terlihat pada komentar Thomas C. Bruneau. Menurutnya:
“Gereja adalah suatu lembaga yang berubah tidak seluruhnya atas dasar alasan-alasan oportunistik kecuali demi mempertahankan pengaruh mereka, dalam hal ini mereka sendiri mengartikannya dengan cara merubah pandangan-pandang normatif mereka”
Perubahan Gereja Amerika Latin tidak terlepas dari perubahan-perubahan dalam bidang politik dan sosial ketika itu. Sejak tahun 1950-an setelah terjadinya perang dasyat (perang dunia II) industrialisasi di benua itu terjadi secara cepat. Perubahan dalam berbagai kehidupan sosial pun juga ikut terjadi. Tidak heran jika Amerika serikat sebagai penggerak utama kapiltalisme modern suatu saat akan menjadikan Amerika tengah, dan selatan sebagai proyek masa depan yaitu sebagai tempat diadakannya perdagangan bebas.
Sayang seribu sayang, ternyata perubahan besar-besaran tersebut tidak dibarengi dengan perubahan di bidang lainnya. Perubahan itu justru menyebabkan jurang antara kaya dan miskin semakin lebar. Pembangunan telah menyebabkan keterbelangan dalam bidang sosial. Singkatnya perubahan yang terjadi secara cepat tersebut telah menyebabkan ketergantungan rakyat Amerika Latin dalam bidang ekonomi, dan semakin memperuncing persoalan-persoalan sosial antara kaum kaya miskin, antara majikan dan buruh, dan tentu saja kemiskinan di kota-kota besar dan juga di desa-desa semakin besar, dan membludak. Sementara kaum bermodal, kapitalis, rezim militer, elite politik justru berada diatas puncak dan berdiri diatas penderitaan rakyat.
Melihat keadaan yang semakin memprihatinkan, pada tahun 1960-an lahir dan berkembanglah suatu gerakan yang ingin membela kepentingan orang tertindas. Gerakan ini sering disebut sebagai “Katolik Kiri”. Gerakan-gerekan ini dipengaruhi oleh pengaruh teologi Perancis, ilmu ekonomi humanismenya Romo Lebret, gerakan-gerakan mahasiswa Katolik semakin radikal. Gerakan rakyat lainnya yang mengarah ke sosialisme juga semakin berkembang. Di sisi lain dengan semakin berkembangnya gerakan mahasiswa yang mengarah ke-arah sosialisme tersebut membuat para penguasa, pelaku kapitalisme, dan juga kaum agamawan konservatis semakin tersudut.
Yang menarik bahwa gerakan ini dengan terang-terangan mengutuk kapitalisme dengan pernyataan keras yang tercantum dalam Some Guidelines of an Historical Ideas Some Guidelines of an Historical Ideas. Dengan terang-terangan memberi pernyaatan keras bahwa:
“Kita harus mengatakan tanpa ragu dan rasa sungguh-sungguh bahwa kapitalisme, sebagaimana terbukti dalam sejarah, memang hanya patut memperoleh kutukan dari alam kesadaran Kristen. Perlukah membenarkan hal ini?cukuplah kalau ditegaskan kembali di sini beberapa keterasingan watak manusiawi oleh situsi nyata kapitalis: pemerosotan tenaga kerja manusia menjadi barang dagangan semata-mata, kediktatoran pemilik pribadi, yang tidak ditujukan kepada pemenuhan barang-barang kebutuhan pokok bersama, penyalahgunaan kekuasaan ekonomi, persaingan tanpa kendali pada satu sisi, dan segala macam praktek monopoli pada sisi lainnya, dan dorongan kehendak utama adalah semangat cari untung belakang”
Dengan pernyataan keras tersebut, maka para pahlawan rakyat miskin tersebut menyerukan suatu perubahan dalam bidang kehidupan yang dirasa tidak adil. Pertama-pertama yang ditekankan adalah perubahan dalam bidang ekonomis. Dalam bidang ekonomis, sistem kapitalisme dirasa bertindak tidak adil terhadap rakyat karena hanya mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memperhitungkan konsekuesinya terhadap rakyat banyak. Karena itu, kapitalisme dituduh anarkhis, tidak adil. Kapitalisme hanya mengutungkan segelintir orang, dan itu pun semuanya antek-antek Amerika Serikat yang menjadi penggagas dan pejuang kapitalisme. Untuk mengatasi ini semua, mereka menuntut agar perekenomian negara tidak lagi diatur oleh segelintir orang saja. Menurut mereka perekonomian harus diorgasir sesuai dengan wawasan kemanusiaan, sebab itu produksi-produksi utama harus dinasionalisasikan demi kepentingan rakyat banyak. Masalah timbul lagi karena ternyata konsep-konsep yang mereka gunanakan bukan lain adalah konsep-konsep Marxis, yang notabene konsep ini musuh bebuyutan Gereja dan juga kapitalisme Amerika.
Di Brazilia sendiri ada banyak gerakan-gerakan rakyat yang menolak mentah-mentah kapitalisme, misalnya Gerakan Pendidikan Dasar (MEB), JUIC salah satu gerakan mahasiswa Katolik. JUIC dan MEB sendiri bergabung menjadi satu pada tahun 1962 dengan nama Acao Popular atau AP. Gerakan ini bertujuan untuk menegakkan sosialisme dengan cara Marxis. Gerakan lainnya yang juga bergabung dengan gerakan rakyat tersebut adalah PcdoB (Partindo Comunista do Brasil).
Dengan semakin maraknya kekuatan rakyat, militer ternyata tidak tinggal diam. Militer denga cepat memberantas berbagai pergolakan yang menimbulkan anarkisme di berbagai daerah. Tidak heran dengan tindakan agresif dari phak militer banyak manusia yang menjadi korban. Korbannya tidak terkecuali para Romo-romo bahkan Uskup yang terang-terangan mendukung aksi rakyat tersebut juga menjadi korban keganasan militer. Saat itu militer seolah-olah bertindak benar. Karena tujuan mereka mengambil tindakan adalah untuk mengamankan peradaban Kristen dari cengkeraman komunisme. Gereja juga berpihak kepada militer, sehingga militer boleh berbuat apa saja telah diberi mandat oleh para pemimin agama dan juga politik.
Perjuangan-perjuangan rakyat Amerika Latin tidak berhenti di Brazilia. Bahkan menyebar di berbagai tempat. Di Nicaragua dibawah kendali geriliawan Sandinista dan bersama rakyat banyak yang ikut menderita berhadapan dengan oligarkhi Amerika Serikat, para pengusaha perkebunan, militer serta tuan tanah. Dan kemudian pada tahun 1979 rakyat bersama Daniel Ortega berhasil menggulingkan pemerintahan diktator dan membentuk pemerintahan sosialis.
Selain itu, di negara-negara Amerika Latin perlawanan terhadap kekuasaan-kekuasaan kapitalis Amerika juga berkembang, misalnya di Columbia, Bolivia, Argentina, Chili, dan Paraguay, serta El-Savador.
Kendati rakyat Amerika Latin berjuang untuk melawan keganasan kapitalisme dan juga kediktatoran politik sampai ke dasar-dasarnya, barulah pada tahun 1971 mencapai puncaknya. Di mana pada tahun itu terbitlah karya fenomenal Gustavo Guiterrez, seorang imam Yesuit yang berjudul Liberation Theology-Perspectiv. Buku ini menandai lahirnya teologi pembebasan di Amerika Latin. Read the rest of this entry »
Recent Comments